Senin, 03 Agustus 2015

Mengenal Kisah Pria yang Jadi Nama Bandara di Istana Siak

Pekanbaru - Nama sebuah bandara biasanya dinamakan dengan tokoh yang berpengaruh di tempat tersebut. Pekanbaru punya bandara bernama Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II. Sebenarnya, siapa dia?

Pekanbaru tak hanya punya objek wisata alam yang indah, tapi juga sejarah yang kaya. Salah satunya Istana Siak dan Komplek Makam Masjid Syahabuddin. Terdapat banyak sejarah mengenai asal usul Kerajaan Siak, termasuk kisah Sultan Syarif Kasim II.

detikTravel sempat berkunjung ke sana minggu lalu dan menelususi sejarahnya. Sultan Syarif Kasim II lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893. Dia adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Syarif Kasim diberi kesempatan menuntut ilmu di Batavia.

Sultan Syarif Kasim II punya dua permaisuri. Yang pertama, Tengku Syarifah Mariam binti Fadyl yang bergelar Tengku Agung Sultanah Latifah yang menikah di Langkat Sumatera Timur pada 27 Oktober 1912.

Tengku Agung sempat mendirikan sekolah Sultanah Latifah School pada 1926 yang mengajarkan baca, tulis, agama, bahasa Belanda, dan keterampilan memasak dengan guru-guru perempuan. Tengku Agung mangkat pada 1929.
Selama 14 tahun Sultan tak punya permaisuri hingga menikahi Syarifah Fadlun yang diangkat sebagai permaisuri II dengan gelar Tengku Mahratu. Tengku Mahratu kemudian dicerai hidup pada 1950 dan mangkat di Jakarta pada 1980.

Selain dua istri tersebut, Sultan punya dua lagi istri yang berstatus selir. Yakni Syarifah Syifak yang dicerai hidup, dan Syarifah Fadlon pada 17 Februari 1957 di Jakarta, seorang janda berdarah Arab-Betawi beranak empat. Syarifah Fadlon mangkat di Jakarta pada 1987 dan dimakamkan di Siak Sri Indrapura.

Sultan tak punya keturunan dari empat istrinya tapi memelihara banyak anak angkat. Tak adanya keturunan jadi salah satu sebab Sultan menyerahkan Kerajaan Siak Sri Indrapura, bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1946 dengan tanda menyerahkan mahkota dan singgasananya. Singgasana bersepuh emas ini sekarang ada di Museum Nasional, Jakarta, sedangkan yang ada di Istana Siak adalah replikanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar